Selasa, 29 Juli 2014

Kendur

Teringat beberapa waktu lalu, kala Ramadhan baru menginjak hitungan hari. Menjadi manusia seutuhnya yang berhak bahagia dengan apa pun yang dilakukannya. Mengendurkan semua target sembari melemaskan syaraf-syaraf yang menegang. Sedih memang, sebab Ramadhan kali ini tidak lagi seistimewa dengan jahadah yang maksimal. Tapi, justru Allah menanugerahkan nikmat-nikmat lain yang membuatku terbelalak sendiri. Tugasku kini adalah terus mengulang hamdalah. Duhai Rabbi, terima kasih, terima kasih. Kesyukuranku tertinggi hanya kepada mu.

Syawal hari ketiga,
Pekalongan

Kamis, 03 Juli 2014

Kembali, Abstrak

Memasuki bulan ke tujuh aku disini. Dimana sebagian usaha ku tumpu padanya. Ramadhan hari kelima, kembali terngiang masa itu. Mengapa tak lekang setiap memori ya? Ia terekam kuat bak binder yang lengkap dengan bab dan halamannya. Hingga terkesiap, mengapa pula aku disini? Qadarullaha haqqa qadarihi. Inilah qadar-Nya dan sebaik-baik takdir yang diberikan oleh-Nya.

Senin, 30 Juni 2014

Melayang

Di catatan maya ini, selalu saja aku bercerita. Tentang beraneka rasa dalam penyampaian yang abstrak. Sok puitis padahal lugas pada aslinya. Tetap saja ia mudah berkilah, bulir huruf ini adalah penyeimbang yang mestinya satu padu. Tiada kanan tanpa kiri, tiada mengkhayal tanpa banyak berpikir. Barangkali begitulah.

Seorang kawan pernah berkata, "kau ini nampak bak ilalang, selalu ingin terbang." Aku tersenyum, berterima kasih padanya. Memang begitulah. Sebagaimana kini, terbang dan mengangkasa adalah sebagian dari apa yang dibenaknya. Mendengarnya saja, seketika ia hendak melayang mengikuti kemana angin pergi, lalu mengantarkannya ke titik peraduan cahaya. Melebur dan mengikuti alur perpindahan dimensi menuju sebelas anak tangga dimensi hingga puncak tertinggi.

Disana, di suatu tempat dan masa yang tak mampu dikalkulasi. Aku selalu bermimpi melayang, melangit menuju-Nya. Melintasi gumawan menuju batas warna hitam dan biru.

Merindu Wajah Itu

Ramadhan hari ke-2!

Selamat datang Ramadhan, hari yang dinanti oleh jiwa yang merindu. Apalagi kalau bukan kerinduan pada masa dimana orang-orang menjadi kembali putih sediakala. Dimana lapar dan dahaga menjadi aktivitas yang mengasyikan. Semua orang berlomba-lomba mengulurkan tangan memberi sedekah. Menjaring beragam amal shaleh yang lama tak dilakukan sepanjang 11 bulan yang lalu.

Kamis, 26 Juni 2014

Rumput

Barangkali benar katamu, dik.
Hijau, indah dan embunnya segar membasahi tanah.
Tapi sayang, ia adalah rumput.
Siapa yang peduli pada keindahannya?
Padahal kesempurnaan telah Ia titipkan padanya.
Akan terus menyeruak di antara bebatuan dan tanah mati,
terus hidup meski terinjak dan lagi.
Terima kasih, dik.