Tampilkan postingan dengan label Rumah Kami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rumah Kami. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Agustus 2013

Bait Asy-Syirkah

Masjid Bait Asy-Syirkah
Ini tentang masjid di perumahan tempatku tinggal. Masjid Baitusy Syirkah namanya. Tentang pemakaian nama, aku kira itu berkat tokoh di wilayahku dulu. Kami adalah para pedagang olahan kedelai yang berserikat di bawah naungan koperasi. Maka tak heran, "Bait Asy-Syirkah" menjadi nama masjid kami. Masjid yang sudah beberapa kali dipugar dengan swadaya alias kantong kami sendiri. Bermula dari aula kecil yang kami sebut 'langgar' kini berkembang menjadi masjid cukup besar dengan dua lantai. Bisa dibilang, 80% sudah jadi.

Rabu, 07 Agustus 2013

Siap-Siap Mudik

Setelah hampir 4 tahun tak ikut balik kampung (keluarga sih tetep pulang), tahun ini akhirnya..ikut mudik bersama keluarga. Yeay!! ^___^


Mau kemana kita? -->Pekalongan!
Tempat saya dan keluarga dilahirkan. Olala, ada niatan ngebolang disana pekan ini. Masa' iya, selama dua puluhan tahun ini, saya belum pernah keliling Pekalongan? 


Niatnya naik kereta, tapi..alhasil ngikut saja deh bareng keluarga. (Sebenernya sih, kehabisan kereta eksekutif murah. ^__^) Hihi..

Selamat mudik, sahabat. Fii amanillah fii thoriqiikum, ^-*

Senin, 24 Desember 2012

#eaa!

"Sudah lama kali, saya tak tengok blog ini. Macam mana pula, bah?"

Loh, kok nadanya jadi Medan, ya? Maklum, ada santri RQ yang berasal dari tanah Batak sana, Medan maksudnya. Jadi, ngikut deh. Tapi bukan itu sih yang penting. Setelah berganti tempat meski dinaungi oleh payung yang sama dan berganti pula penghuninya, sepertinya sudah lama saya tidak menulis tentang kisah rumah kami, rumah yang disemai tilawah di seluruh penjuru rumahnya.

Kali ini saya punya cerita baru yang berbeda dari sebelumnya. Ini adalah kisah kami #eaa namanya. Loh, kok? Tenang, bukan bermaksud menjadi 'alay', meskipun kadang kami nyeleneh, hehe. #eaa ini singkatan dari tiga kata: erqi, akuntansi, dan akhwat-aneh-atau apapun lah. Agak dipaksain ya? Yah, begitulah. Mungkin ini adalah ikatan untuk membumikan kebersamaan kami di erqi (Rumah Quran). Lah, emang selama ini di planet mana?

Akhwat paling senior #eaa1 namanya, kedua senior #eaa2 dan saya: #eaa3. Merasa senasib dan sepenanggungan, menjadi angkatan duaributua di antara maba-maba UI, sama-sama dari departemen akuntansi (kecuali saya, karena saya akuntansi syariah), dan kalau kita berkumpul maka yang terjadi adalah...*jerenjeng.. Heboh! Akan banyak kata-kata #eaa diulang beberapa kali.

Senin, 26 November 2012

Izul Falaq, Namanya

23 November 2012

Malam ini, saya mendengar takjub cerita seorang santri takhasus: Izul Falaq namanya. Akhwat ini berusia lebih muda dariku. Sejak kecil ia sudah tak berayah juga beribu, jauh datang dari Bima hanya untuk Al-Quran. Kecintaan kepada ayah dan ibu yang tak sempat diingatnya, keinginan besar menghadiahkan mereka tercinta dengan Al-Quran menggerakannya ke rumah ini. Rumah yang disemai tilawah Al-Quran di seluruh penjurunya.

Ternyata, menghafal Al-Quran itu penuh perjuangan. Ia harus berkali pindah tempat: Bekasi, Bogor, Ciamis, Ciracas, Pasar Minggu hingga Depok dengan beragam alasan yang tak begitu dimengertinya. Ia ridha ditempatkan di mana saja, asal tetap dapat menghafal.

Kamis, 01 November 2012

Uhibbukunna fillah..

Ada yang menyesak di dada, saat kedekatan sudah mulai terasa. Ukhuwah namanya. Lalu, ada persoalan-persoalan dunia yang kembali datang menguji ketahanan azzam. Al-Quran. Siapkah kita menerpa badai uji, yang sebelumnya telah datang mendatangi kami. Sebelum kami melangkah ke sebuah rumah yang dibangun atas nama Al-Quran. Resiko realisasi azzam itu telah hadir, akibatnya kami harus kehilangan sebuah tempat kos yang nyaman; teman lama bercengkerama; jauhnya jarak; tersitanya porsi waktu privasi; dan hal-hal lainnya. Sampai urusan kerepotan mengatur jadwal kuliah, terlebih bagi mereka yang telah sibuk dengan organisasi dan hal-hal yang menyibukan diri dalam kebaikan.

Kamis, 28 Juni 2012

Maka, Bersabarlah Wahai Diri..

Sulit dan sangat sulit. Berulang kali mengulang hafalan untuk diujikan, imtihan kepada musyrifah. Guru kami, guru Al-Quran di rumah kami, rumah kebanggaan kami, rumah di mana dikumandangkan Al-Quran di setiap sudut dan penjurunya. Ah, ada apa dengan diri ini? Hari bertambah, bahkan pekan menjemput belum jua kepala memuat semuanya, mengingat semuanya. Ada apa wahai diri?

Ada apa wahai diri? Bagaimana kabar iman mu kini? Adakah belukar maksiat yang menjeratmu sehingga diri tak merasa mampu? Semua buyar, menguap bagai asap lantas hilang, raib sama sekali.

Ada apa wahai diri? Bagaimana kabar ikatan penjagaanmu? Adakah engkau lemah sehingga ia lari? Padahal, manusia tercinta telah bersabda: "Ikatlah Al-Quran mu kuat-kuat karena ia bisa saja lari, dan larinya jauh lebih cepat dibanding unta yang terlepas." Bukankah makna itu yang kau rekam, biar redaksinya agak tertukar?

Ada apa wahai diri?

Minggu, 24 Juni 2012

Obrolan Kami

Ada yang menarik kemarin. Obrolaan kami, aku dan seorang saudara seatap rumah kebanggaan kami, Rumah yang disejuki tilawah Al-Quran di dalamnya. Tempat berkumpulnya orang-orang yang bermisi Al-Quran. Malam sudah menjemput siang, mengganti terang menjadi gelap. Di salah satu malam libur tanpa setoran muraja'ah dan hafalan, seorang saudara datang dengan beberapa pertanyaan. Pertanyaan yang menguji pemahaman, menguji keteladanan, menguji kearifan dan menguji laku. Sudahkah kata-kata yang keluar dari lisan mencerminkan laku? Jangan sampai kita menjadi bagian dari golongan yang Allah benci karenanya, na'udzubillah. Sampailah obrolan itu pada suatu tanya yang memaksa kantuk bertahan berharap adanya pengajaran.

"..hingga aku mengerti, sumur yang kering itu adalah pertanda hujan akan segera datang. Sumur yang kering itu perlambang titik kritis kita, titik maksimum perjuangan kita. Dan adalah benar, rahmat akan segera datang ketika kita telah mencapai titik kritis itu. Jika sumur masih terasa agak basah dan lembab, maka pertanda usaha kita belum maksimal. Jika kesulitan itu datang, tenang..akan ada dua kemudahan datang."

Rabu, 20 Juni 2012

Titah dari Kicau Burung

Pagi ini riuh dengan cicit burung-burung kecil di atas genting, atap rumah kami. Rumah kebanggaan kami yang dikumandangkan Al-Quran di setiap sudutnya. Jendela kamar ku terbuka lebar, menghantarkan hawa sejuk menerobos telaris besi dan pagar. Cicit-cicit burung terus berkumandang, seakan-akan ia tengah berkicau tepat di telinga-telinga kami. Dari sini, di kamar ini, dari jendela ini, burung-burung itu tengah bercanda dengan kawannya. Saling mematuk kaki atau sayapnya bagian belakang.

Cicit-cicit burung belum jua berhenti. Ia melayang mengitari atap rumah kami, berputar berseling di antara kabel dan tiang-tiang listrik. Mengumpat kemudian menampakan diri di antara sela-sela loteng dan antena tetangga-tetangga kami di bumi ramai kendaraan laksana tak pernah tidur.

Sejuk benar-benar menyelimuti kami, hantarkan hawa riang tanda tamu besar akan datang. Burung-burung masih berkicau, berkeliling semarakan pagi bersama kokokan ayam dan desir bising kendaraan bermotor. Sampaikan titah Tuhan, "Hari ini 1 Sya'ban! Ramadhan akan segera datang..!!!"

Atau jika sembarang ditafsirkan bagi hati yang merindu Ramadhan, cicit kicau burung itu tengah berkata:
"Hai manusia, ayo bersegara! Bersegara! Bersegerahlah tunaikan kebaikan untuk sambut Tamu Agung. Jadilah salah seorang insan muflihun karena ampunan dan pahala-pahala yang Allah obral kala itu. Ayo bersegeralah!!"