Aku menyebutnya ayah di lain tempat. Meski nyatanya, ia bukanlah siapa-siapa selain ikatan sebab iman. So? Mengapa ku panggil ia ayah? Entahlah, barangkali ia telah menyatu dengan watak dan wujud sifatnya. Dimana pun, ayah memiliki kesamaan tak bertabir waktu kapan atau saat.
Rabu, 19 November 2014
Rabu, 29 Oktober 2014
Rahman, Sa'idni ya Rahman
Akhir-akhir ini, saya terpaut dengan sebuah nasyid. Nasyid yang memiliki magnet tersendiri, ada gambaran cita di sana. Jika memaknai per liriknya, ku temui segamit doa. Doa, semoga Ia melembutkan hati-hati yang menyemai doa. Nasyid yang dibawakan oleh syekh mahsyur Mishary Rashid Alafasy ini berjudul "Rahman, ya Rahman". Berduet dengan gadis cilik, putri sang Presiden Chechnya. Berikut lirik dan videonya.
Selasa, 28 Oktober 2014
Andilau, antara Dilema dan Galau
Arbitrer. Menyuarakan sekehendak hati, itu sah-sah saja. Toh, ia hadir dari lisan kita sendiri. Tapi, ada kesepakatan-kesepakatan konvensional yang nyatanya harus ditemui di sepanjang jalan. Pada akhirnya, pertemuan ini akan menghasilkan konsesus. Manakah yang seharusnya menjadi bahasa diri?
Senin, 27 Oktober 2014
Bumbu Ikan
Kayaknya, kita lebih senang makan bumbu ikan yang enak daripada ikannya itu sendiri. (@backpackerinfo)
Pun, kita lebih sering mengeluh rasa bumbunya yang kurang enak dibanding ikannya itu sendiri (@sitiusbandiyah)
Bertumbuh
من الحبة تنشائ الشاجرة
"Bertumbuh dari sebuah biji, tumbuh dan berkembang menjadi pohon impian"Waktu itu, laksana diburu oleh waktu, berpacu, bergerak cepat dan berharap segera menyelesaikan. Kemudian kecewa, tak jua bertemu garis akhir di tiap perbatasan. Yang ada, justru jeweran demi jeweran kepada diri yang keburu nafsu. Ah, malunya. Duhai Rabb, terima kasih atas segala perjalanan tarbiyah-Mu melalui sahabat surgawi ini.
Langganan:
Postingan (Atom)