Kini, malam menjadi waktu yang amat mengasyikan. Tergerak selalu ingin segera pulang. Mengabarkan yang sedikit lalu mendengar banyak hal. Akan ada banyak kisah untuk diceritakan, sepanjang siang hingga malam menjelang. Tidak lagi soal penting dan tidaknya kisah itu, melainkan aura kami yang menyatu tiap-tiap malamnya. Apapun yang akan keluar dari lisannya, amat aku tunggu-tunggu. Meski ia hanya sebulir dua bulir kata.
Tampilkan postingan dengan label Serial Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serial Keluarga. Tampilkan semua postingan
Rabu, 24 September 2014
Senin, 22 September 2014
Pertalian yang Rumit
Ada sebuah pertalian yang amat rumit. Ia terkoneksi, namun seringkali harus mendapati diam satu sama lain. Aku tak mengerti, apa memang demikian fitrahnya. Pertalian itu, seringkali mendapati getaran-getaran yang tak mampu diakomodasi oleh kata apapun. Bagi sebagian orang, termasuk aku. Terkenang wajahnya, keras pundaknya, legam badannya dan keras wataknya. Bening matanya yang syahdu, lamat-lamat sayu. Badannya yang dulu gagah, lamat-lamat terkikis dimakan waktu. Entah kapan pertama kali, engkau benar-benar tertawa. Bukan karena tak punya stok bahagia. Sebab baginya, pundak yang mengeras menanggung beban adalah kebahagiaan bersamaan tanggung jawab yang besar.
Minggu, 31 Agustus 2014
Ayah
Hari itu, hari spesial bagi seorang saudari. Belum lama, ayahnya telah berpulang, kali ini, ia menggelar pernikahan. Bukan, bukan hal itu yang ku maksud. Ada satu hal yang membuatku takjub tiada tara. Ketika mata-mata mengarah pada satu pandang: akad yang menggetarkan 'arsy. Justru, mataku memandang hal lain. Berkali-kali aku mengulang doa, hampir-hampir menumpahkan air mata di keramaian.
Mulaikanlah ia, Rabb. Muliakan. Sungguh, ia adalah surga baginya. Rabb, muliakanlah.
Kamis, 14 Agustus 2014
Sahabat, Lihatlah Mata Ayah
Teruntuk sahabatku,
Tidak terasa, ya, waktu bak sekejap berlalu. Demikian cepatnya.
Kini tiba bagimu, detik-detik menuju peralihan bakti.
Dari seorang anak menjadi istri.
Kepada orang tua menjadi suami.
Tidak terasa, ya, waktu bak sekejap berlalu. Demikian cepatnya.
Kini tiba bagimu, detik-detik menuju peralihan bakti.
Dari seorang anak menjadi istri.
Kepada orang tua menjadi suami.
Langganan:
Postingan (Atom)