Selasa, 26 Juni 2012

Bersungguhlah!

Di penghujung malam, hanya ingin ku sampaikan padamu:
"Bersungguh-sungguhlah dan iringilah kesungguhanmu dengan kesabaran yang baik..
Niscaya Allah menjemputmu dari beragam pintu yang dikehendaki-Nya..
Bersungguhlah, hingga kesungguhan mu terasa aus dan perlu direparasi..
Bersabarlah, hingga kau hanya temukan cinta dan arahan-Nya dalam setiap liku jalan.."

Minggu, 24 Juni 2012

Tamuku, Sepotong Jilbab

Suatu hari, sepotong jilbab menemuiku. Bertandang ke rumah dengan raut syahdu. Ah, dia memang seorang pemalu. Ku persilakan ia duduk di depan beranda rumah surgaku ini. Karena kami telah kenal dekat dan sangat dekat, mudah baginya untuk bercerita denganku. Tanpa diminta, ia memulai pembicaraan. Ia mengadu, bicara banyak tentang tuannya. Menarik, gumamku. Sepertinya, akan ada ilmu baru yang akan ku tangkap di sini. Ku fokuskan secara penuh untuk mendengarnya.


Jilbab itu memulai kisahnya, dimana pertama kalinya ia menjadi teman setia seorang gadis berawak kecil. Begitu senangnya ia berkisah, menunjukan betapa bangganya ia menutup kepala gadis itu. Sang gadis riang, cerdas, bersahaja, polos dan juga jujur. Kemudian ia berhenti sebentar, mengingat sesuatu.

Jika Kesulitan Menghadangmu, Katakan: Akan ada Dua Kemudahan Bagiku!


Sahabat, pernahkah engkau merasakan titik nadir kejenuhan untuk meniti jalan ini? Jalan yang kini tengah engkau dan aku tempuh, jalan kita masing-masing. Barangkali memang bukan jalan ini yang seharusnya kita tempuh, jalan yang harus dilalui. Akan tetapi inilah skenario Allah hendak mengantarkan kita pada gang-gang hikmah baru beserta bangunan baru yang belum pernah kita saksikan sebelumnya.

Kita telah di sini, di jalan ini, sehingga mau tidak mau diri harus mengetuk pintu-pintu asing penghuni bangunan-bangunan asing, bertamu dan berinteraksi dengan rupa-dialek-budaya berbeda. Kita adalah pengembara yang tengah mencari arah dan kita butuhkan mereka, orang-orang yang akan memberikan petunjuk di mana jalan sebenarnya.

Obrolan Kami

Ada yang menarik kemarin. Obrolaan kami, aku dan seorang saudara seatap rumah kebanggaan kami, Rumah yang disejuki tilawah Al-Quran di dalamnya. Tempat berkumpulnya orang-orang yang bermisi Al-Quran. Malam sudah menjemput siang, mengganti terang menjadi gelap. Di salah satu malam libur tanpa setoran muraja'ah dan hafalan, seorang saudara datang dengan beberapa pertanyaan. Pertanyaan yang menguji pemahaman, menguji keteladanan, menguji kearifan dan menguji laku. Sudahkah kata-kata yang keluar dari lisan mencerminkan laku? Jangan sampai kita menjadi bagian dari golongan yang Allah benci karenanya, na'udzubillah. Sampailah obrolan itu pada suatu tanya yang memaksa kantuk bertahan berharap adanya pengajaran.

"..hingga aku mengerti, sumur yang kering itu adalah pertanda hujan akan segera datang. Sumur yang kering itu perlambang titik kritis kita, titik maksimum perjuangan kita. Dan adalah benar, rahmat akan segera datang ketika kita telah mencapai titik kritis itu. Jika sumur masih terasa agak basah dan lembab, maka pertanda usaha kita belum maksimal. Jika kesulitan itu datang, tenang..akan ada dua kemudahan datang."

Rabu, 20 Juni 2012

Titah dari Kicau Burung

Pagi ini riuh dengan cicit burung-burung kecil di atas genting, atap rumah kami. Rumah kebanggaan kami yang dikumandangkan Al-Quran di setiap sudutnya. Jendela kamar ku terbuka lebar, menghantarkan hawa sejuk menerobos telaris besi dan pagar. Cicit-cicit burung terus berkumandang, seakan-akan ia tengah berkicau tepat di telinga-telinga kami. Dari sini, di kamar ini, dari jendela ini, burung-burung itu tengah bercanda dengan kawannya. Saling mematuk kaki atau sayapnya bagian belakang.

Cicit-cicit burung belum jua berhenti. Ia melayang mengitari atap rumah kami, berputar berseling di antara kabel dan tiang-tiang listrik. Mengumpat kemudian menampakan diri di antara sela-sela loteng dan antena tetangga-tetangga kami di bumi ramai kendaraan laksana tak pernah tidur.

Sejuk benar-benar menyelimuti kami, hantarkan hawa riang tanda tamu besar akan datang. Burung-burung masih berkicau, berkeliling semarakan pagi bersama kokokan ayam dan desir bising kendaraan bermotor. Sampaikan titah Tuhan, "Hari ini 1 Sya'ban! Ramadhan akan segera datang..!!!"

Atau jika sembarang ditafsirkan bagi hati yang merindu Ramadhan, cicit kicau burung itu tengah berkata:
"Hai manusia, ayo bersegara! Bersegara! Bersegerahlah tunaikan kebaikan untuk sambut Tamu Agung. Jadilah salah seorang insan muflihun karena ampunan dan pahala-pahala yang Allah obral kala itu. Ayo bersegeralah!!"