Rabu, 24 Juli 2013

Oh, Ramadhan

Oh, Ramadhan. Adakah aku merugi kini?
Tak ku jumpai waktu luang yang cukup untuk beriftirasy bersamamu.
Adakah aku salah? Aku mengesampingkanmu di antara ruang waktu penghabisan 

Oh, Ramadhan. Jangan kau tinggalkan aku sendiri,
Gandeng tanganku, gamit ia, bawa aku pergi bersamamu.

Oh, Ramadhan. Jangan kau acuhkan aku,
Temani aku terus bersamamu, 
dalam tiap menit roda berputar;
dalam tiap baris tilawah di keramaian;
dalam tiap penat itikaf di kesibukan;
Sapalah aku dan pamitlah padaku sebelum engkau pergi menjauh.


Oh Diriku, Adakah?

Wahai diri,
Nampaknya kau jauh lebih baik dari anak kecil itu.
Hal itu tidak mungkin, kawan.
Ia masih teramat muda.
Ia masih sebening mata air sedang aku keruh.
Dan ia memulai usianya dengan kebaikan.
Ia akan selamat nanti, sedang aku?
Manakah yang kau jadikan cermin, bening ataukah keruh?
Maka, ia jauh lebih baik dariku.

Minggu, 16 Juni 2013

Rahma El Yunusiyyah: Dengan Jilbab Panjangnya, Angkat Senjata dan Bangun Sekolah!

Dari blog kawan yang pernah satu atap menghafal Quran, Andi Astri Faradiba namanya. Saya dapatkan tulisan yang menarik disimak. Menggugah, insya Allah.



Rahmah El Yunusiyyah, Mujahidah tanpa Emansipasi


Di antara para pahlawan Nasional, terdapat sederet nama-nama wanita dari berbagai daerah dan beragam cara berjuangnya. Kalau Cut Nyak Dien dan Keumalahayati berjuang dengan mengangkat senjata tanpa mendirikan sekolah, sementara Dewi Sartika berjuang dengan mendirikan sekolah tanpa mengangkat senjata. Tapi selain mereka, lihatlah Rahmah El Yunusiyah, yang berjuang dengan mendirikan sekolah sekaligus mengangkat senjata. Dan ia pertaruhkan seluruh jiwa raganya demi agama.

Sangat Abstrak

Mengapa dewasa ini, banyak para pemuda terjangkit penyakit hati bernama galau? Terlebih jika ia menjangkit para aktivis bernama kader dakwah. Para pengampu amanah yang beratnya demikian menghancurkan gunung sebagai pasak bumi. Mungkin pula meruntuhkan langit menghempas bumi kembali. Aih, sudah jatuh, tertimpa tangga pula.

Banyak analisa, banyak hipotesa. Banyak sebab sehingga banyak akibat. Aih, demikian rumitnya. Sebenarnya, apa definisi kata galau tersebut? Bukankah ia mengindikasikan suasana hati tak menentu akan ketidakpastian? Sehingga kekhawatiran dan kecemasan melanda karena ketidakpastian itu tak dapat dipecahkan oleh akal kita yang tebatas. Ya, akal yang telah demikian canggihnya ini adalah anugerah Allah terbesar, karena ia adalah pencari kebenaran. Kebenaran yang sporadik, ada dimana pun, dapat tumbuh dan berkembang dalam situasi apapun namun abstrak. Di mana sesungguhnya ia? Pernahkah kita melihat spora sebelum berubah menjadi mushroom?

Selasa, 07 Mei 2013

Kata itu Bernama Sabar

Penat, tentu. Bagaimana tidak, pikiran saya dipenuhi hal yang sama dan sama-sama menguras energi. Teringat sebuah baris kalimat seorang ustadz, melalui sebuah buku yang dihadiahkan kepada saya. Baris sederhana namun mengambil sudut pandang yang berbeda, hingga apa yang otak ini maksud pun berbeda pula. Ah, betapa hebat orang-orang dengan cara pandang berbeda tersebut.

Rangkuman dari baris kalimat itu adalah kata sabar. Ia ibarat kita yang tengah mengayuh sepeda menaiki bukit. Apakah sabar memiliki batas? Sesungguhnya, sabar itu tiada memiliki batas. Namun, sunnatullah Allah memberikan sebuah batas untuk sebuah pekerjaan. Apa maksudnya? Menilik kisah tadi, Allah tetapkan kesabaran kita ada di atas bukit, kesabaran atas kesulitan mengayuh sepeda. Lantas, setelah itu, adalah kemudahan. Tanpa perlu mengayuh, kita dapat menuruni bukit dengan kecepatan cukup tinggi. Seketika, apapun duka sebelumnya akan hilang bersamaan kebahagiaan karena telah melewati puncak bukit tersebut. Kembali mengayuh menuju bukit-bukit selanjutnya, dengan bersemangat.