Ah, saya tak berniat menuliskan buliran huruf sendu yang mengelu-elukan sosok pendamping, sahabat. Tapi, saya hanya ingin berbagi sebuah tanya tentang hal ini. Di usia kepala dua, adalah wajar seorang wanita (termasuk saya) mulai dilirik untuk diperbincangkan masa depannya. Pengkerucutan itu berfokus soal pernikahan dan keluarga. Dengan siapakah dia menikah dan bagaimana keluarganya nanti? Dan ternyata, bukan hanya wanita. Pasangannya bernama laki-laki pun turut diperbincangkan. Untuk ini, bertambah objek perbincangan itu dengan kesanggupan finansial dan kepemimpinan.
Jumat, 23 Mei 2014
Takdir
"Sepertinya, kita tidak ditakdirkan untuk bertemu beliau hari ini, us.."
Langkahku masih berpacu. "Sekali-kali tidak. Takdirku adalah ketika semua pintu telah diketuk, terbuka atau tidaknya, itu baru takdirku.."
Langkahku masih berpacu. "Sekali-kali tidak. Takdirku adalah ketika semua pintu telah diketuk, terbuka atau tidaknya, itu baru takdirku.."
Pendarnya, Cahayamu..
Masih saja termangu. Adalah keniscayaan, pendar cahaya hati kita berpengaruh besar pada redup terangnya lingkungan sekitar. Jagalah, jagalah. Pendarnya adalah sumber cahaya kehidayaan bagi siapapun. Jagalah, agar surgamu penuh dengan umat Rasulillah. Jagalah, agar pendarnya menyelamatkanmu, aku, dan kita.
Lalu rintik air mata mengalir..
Bagaimana pendar cahayamu, wahai diri?
Sudahkah kau menjaga dan menyebarkan
cahayanya?
Lompatan Intelektualitas
Di halaman muka buku warna orange, ku temukan sebuah judul tulisan acak yang ku buat sesuka hati dikala waktu bersahabat. Judulnya: Lompatan Intelektualitas. Menarik! Hampir-hampir lupa, kapan saya pernah menulisnya? Oia, kalau tidak salah sewaktu membuka kembali buku Mikro Ekonomi di halaman muka dan bab pertama: Ilmu Ekonomi!
Minggu, 18 Mei 2014
Bolehkah Aku Mengeluh?
Pagi ini, wanita itu tertunduk di dekat ku. Ia diam membisu sekian lama. Aku tak biasa dengan situasi ini, mencoba bergerak sebagaimana biasa. Membuka lipatan meja kayu, menyiapkan laptop dan memasangkan kabel-kabelnya. Hari ini adalah deadline tugas kantor yang dibawa pulang, lembur di hari libur. Ingin ku belai helai rambutnya, memegang tangan dan menyiumnya berkali-kali. Lalu dengan lembut aku bertanya padanya.
Langganan:
Postingan (Atom)