Membangun hati penuh
iman itu mudah dan sangat sulit. Tergantung di mana bumi ini dipijak. Begitu
mudah memiliki hati bersih dan terasa sempurna keimanannya dalam me-nunggal-kan
Allah, bila kaki ini berpijak dalam lingkungan penuh iman, komunitas shalih,
para pecinta kalm Allah yang terbina dengan ukhuwah. Dalam lingkungan penuh
berkah ini, seakan-akan kitalah salah satu shalih tersebut. Begitu menggelora,
bersemangat dakwah dan terpatri janji kan tegakkan panji Ilahi di bumi pertiwi.
Seorang sahabat mengadukan sahabatnya, bagaimana perbedaan karakter
dan filosofi hidup membuat persahabatan mereka dipenuhi konflik. Begitu
dilema, jika suatu saat merasa risih dan enggan untuk membersamai.
Namun, di lain waktu, hati terasa rindu dan sangat menyesal.
Aku menghela nafas. Berkaca pada lika-liku persahabatanku sejak lalu. Dan..sebuah titik terang muncul.
Ah, saya tak berniat menuliskan buliran huruf sendu yang mengelu-elukan sosok pendamping, sahabat. Tapi, saya hanya ingin berbagi sebuah tanya tentang hal ini. Di usia kepala dua, adalah wajar seorang wanita (termasuk saya) mulai dilirik untuk diperbincangkan masa depannya. Pengkerucutan itu berfokus soal pernikahan dan keluarga. Dengan siapakah dia menikah dan bagaimana keluarganya nanti? Dan ternyata, bukan hanya wanita. Pasangannya bernama laki-laki pun turut diperbincangkan. Untuk ini, bertambah objek perbincangan itu dengan kesanggupan finansial dan kepemimpinan.