Senin, 27 Oktober 2014

Bertumbuh

من الحبة تنشائ الشاجرة
"Bertumbuh dari sebuah biji, tumbuh dan berkembang menjadi pohon impian"
Waktu itu, laksana diburu oleh waktu, berpacu, bergerak cepat dan berharap segera menyelesaikan. Kemudian kecewa, tak jua bertemu garis akhir di tiap perbatasan. Yang ada, justru jeweran demi jeweran kepada diri yang keburu nafsu. Ah, malunya. Duhai Rabb, terima kasih atas segala perjalanan tarbiyah-Mu melalui sahabat surgawi ini.

Kamis, 16 Oktober 2014

Membersamaimu

"Tidak, aku pun cukup lama berproses membersamainya. Sulit mudahnya, titik-titik nadir kejemuan hingga perasaan yang tak mau berpisah. Aku membersamainya laksana grafik yang naik turun tak beraturan. Curam, signifikan dan tajam. Namun satu hal yang ku jaga sejak dulu, di balik keterbatasan kemampuan, aku punya satu cita. Terus membersamainya sesulit apapun itu. Hingga tanpa ku sadari, di bilangan waktu tertentu aku menemui kemudahan demi kemudahan. Bahwa semua itu berproses, termasuk membersamainya. Niscaya, di kemudian hari, engkau akan merasakannya. Laksana buliran huruf hanya diturunkan kepadamu, tepat di hadapanmu. Dia yang bersinggasana di 'arsy sana, membuka hatimu dan melapangkannya. Hingga tindak-tandukmu amat begitu dekat kepada-Nya. Hingga, engkau akan terus merasa terjaga. Hingga, hanya kebaikan yang akan terucap. Hanya kalimah-kalimah yang meninggikan-Nya, tanpa kita sadari. Nikmatilah, proses panjang membersamainya. Sulit mudahnya, menemui titik nadir kejemuan hingga bertemu perasaan yang tak mau berpisah."

Ku tatap ia lekat-lekat, jadilah sahabat surgawi ku, kini hingga kelak. Proses membersamaimu adalah proses seumur hidup yang tak lekang dibatasi waktu. Aku, ingin terus membersamaimu. Hingga kelak, kau menjadi pendar cahaya yang menerangi dan membawa kami turut serta dalam naungan yang tiada naungan selain Dia. Menjadi ahlullah, keluarga Allah. Menjadi bagian dari penjagaan al-Quran.

Ruangan kecil kini dipenuhi kesenduan,
di antara harap dan bait-bait doa.
Bersamamu, sebaik-baik pengharapan dan penghibur lara.

Kerikil

Terkadang, aku merindukan jalan yang demikian panjang dipenuhi kerikil tanpa kebisingan. Menyusuri jalan, menendang-nendang batu lalu mendongak ke langit biru. Mengapa pula ia biru? Padahal, panjang gelombangnya yang pendek, memaksa atmosfer memantulkannya kembali. Yang tak pernah melintasi atmosfer, justru tergambar di sepanjang langit dan batas pandang manusia.

Rabu, 24 September 2014

Telur

Kini, malam menjadi waktu yang amat mengasyikan. Tergerak selalu ingin segera pulang. Mengabarkan yang sedikit lalu mendengar banyak hal. Akan ada banyak kisah untuk diceritakan, sepanjang siang hingga malam menjelang. Tidak lagi soal penting dan tidaknya kisah itu, melainkan aura kami yang menyatu tiap-tiap malamnya. Apapun yang akan keluar dari lisannya, amat aku tunggu-tunggu. Meski ia hanya sebulir dua bulir kata.

Senin, 22 September 2014

Pertalian yang Rumit

Ada sebuah pertalian yang amat rumit. Ia terkoneksi, namun seringkali harus mendapati diam satu sama lain. Aku tak mengerti, apa memang demikian fitrahnya. Pertalian itu, seringkali mendapati getaran-getaran yang tak mampu diakomodasi oleh kata apapun. Bagi sebagian orang, termasuk aku. Terkenang wajahnya, keras pundaknya, legam badannya dan keras wataknya. Bening matanya yang syahdu, lamat-lamat sayu. Badannya yang dulu gagah, lamat-lamat terkikis dimakan waktu. Entah kapan pertama kali, engkau benar-benar tertawa. Bukan karena tak punya stok bahagia. Sebab baginya, pundak yang mengeras menanggung beban adalah kebahagiaan bersamaan tanggung jawab yang besar.