Senin, 05 Agustus 2013

Anak Peseda

Kring..kring.. Kring..kring..

wush...kayuhan cukup cepat menyerusuak di antara belokan gang. Ia melaju demikian cepat, mendahului pejalan-pejalan bersenandung. Ia terus melaju diantara kuda dan kereta beroda. Ia maju dan terus melaju, mendahului mereka yang sejenak menunggu tumpangan, pelanggan sang kereta. Ia maju dan terus melaju, berlomba mendahului waktu. Ia maju dan terus melaju, hingga pagar didahului. Ia menang!

Kring..kring.. Kring..kring..

Ah, rindu masa itu. Kemana pergi, sepeda akan terus menemani. Apapun kendaraan yang memenuhi garasi, sepeda menjadi pilihan utama dan terakhir kalinya. Berapapun jarak ditempuh, sepeda adalah kendaraanku. Sekolah, pasar, rumah teman. Ah, senangnya.

Hai, Sumayyah

Sumayyah, kau dengar berita yang baru saja terjadi di negeri kami? Sebuah Vihara tak jauh dari rumahku, katanya ada yang meneror. Ada ledakan agak keras di sana. Kata mereka, orang-orang yang menggunakan jubah yang sama di negerimu. Yah, mereka bilang, teror dengan mercon adalah keisengan kami yang membela dan mengungkit-ungkit namamu demi kebebasan. Ah, sungguh.

Sumayyah, bagaimana kabarmu kini? Di samudera mana kau berada bersama perahumu? Apakah ombak disana begitu mengamuk dan memuntahkan semua isi perutmu? Di gubuk mana kau menghabiskan Ramadhan berteman air menggenang? Dimana kau tidur jika lantai dasarnya penuh dengan air? Bagaimana puasamu dan keluargamu di sana?

Tentang Kata Salah

Alhamdulillah, malam ini kembali berkesempatan menuliskan kata-kata yang belum terangkai makna. Alhamdulillah, malam ini pun saya kembali menikmati kaki-kaki melangkah. Berkesempatan bertemu orang-orang lain, dengan kata lain bersilaturahim untuk memperpanjang makna usia. Melapangkan rezeki serta merangkum makna. Yah, perjalanan adalah pengisian kantung-kantung hikmah.

Salah adalah ciri khas manusia ya, sahabat. Adakah dari kita luput dari sekali salah setahun ini? Barangkali tidak, ya. Kalau begitu, kita kerucutkan dalam sebulan. Adakah kita yang bersih dari salah? Ah, mustahil. Bagaimana dalam seminggu? Adakah? Hm..masih kemungkinan tidak juga, ya? Bagaimana jika sehari? Hm..ada kemungkinan, tapi sepertinya tidak juga, ya. Bagaimana jika dalam hitungan jam, menit atau detik? Sepertinya, tetap saja kita bisa menghindari salah, ya?

Minggu, 04 Agustus 2013

Engkaulah Sumayyah!

Begitu ngilu hati ini. Berulang kali kabar tentangmu mengirisnya. Bukan dengan potongan tajam, tapi irisan pisau berkarat nan mengoyak. Ah, sungguh. Pasukan laki-laki berbaju oranye tanpa rambut di kepala, seakan monster pemakan darah, daging dan kehormatan. Rumah luluh lantak, leher dikoyak, jasad dibakar, bayi-bayi dibelah. Pedang-pedang melayang, tongkat-tongkat menghantam dan kobaran amarah api membakar. Darah dibiarkan mengalir atas ketidakberdayaan. Bagaimana mungkin akan melawan, jika akses pendidikan-kewarganegaraan-pengakuan-hak hidup-persenjataan-demografi semua dilanggar?

Wahai!

Sabtu, 03 Agustus 2013

Wahai Engkau, Aku Iri padamu.

Aku kira, aku belum pernah merasakannya. Menjadi kertas putih, setelah sekian lama tercoret segala tinta. Menjadi sebening embun yang terpisah dari keruhnya parit mengalir. Merasakan jiwa yang bebas dan bertakbir sekuat raga. Menjadi dirimu yang bersinar dari persembunyianmu dulu. Ah, aku iri padamu.

Aku kira, aku belum tahu bagaimana rasanya. Menjadi dirimu yang terisak mengeja talbiyah. Menjadi dirimu, menjadi pribadi paripurna dengan pilihannya. Menjadi dirimu, yang begitu yakin dengan pilihannya. Menjadi dirimu, begitu dekat hatimu pada-Nya. Meski kau pernah mengadu, engkau tak tahu mengapa hati ingin mencurahkan tangisnya. Ah, aku iri padamu.